Descriptive
title of the technology
Cara Bertanam Jeruk Dengan
Sistem 1,3,9 yang Lebih Menguntungkan (Barito Kuala, South Kalimantan)
Abstract
Buah jeruk banyak
dibudidayakan petani, karena selain mengandung banyak vitamin c dan digemari
masyarakat, penanaman dan pemeliharaannya juga relatif mudah. Untuk
meningkatkan buah jeruk baik dari segi produktivitas maupun kualitas buah,
salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan sistem 1,3,9.
Sistem ini merupakan suatu inovasi yang diperkenalkan oleh Penyuluh SPFS – FAO
di desa Pendalaman Baru, Kecamatan Barambai, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan
Selatan, Indonesia dan sekarang mulai banyak dicontoh petani. Kelebihan dari
sistem 1,3,9 dibanding cara penanam biasa adalah : Produktivitas buah tinggi,
ukuran dan kualitas jeruk lebih seragam, kulit jeruk tipis, tanaman terhindar
dari penyakit Diplodia, pemeliharaan lebih mudah dan murah, batang lebih kokoh
dan tidak mudah roboh.
Type of
technology
Detail
Description of technology
Jeruk
merupakan jenis buah-buahan yang populer dan digemari masyarakat. Jeruk bisa
dikonsumsi dalam bentuk buah segar, juga diolah menjadi minuman segar seperti
Es Buah dan Juice Jeruk. Keunggulan buah jeruk adalah, selain harganya murah,
juga sumber utama vitamin C penting untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap
segar sehat.
Mengingat
manfaat buah jeruk, banyak petani yang membudidayakan dengan tujuan untuk dijual
dan sebagian di konsumsi keluarga. “Saya
senang menanam buah jeruk, karena selain cara penanamannya relatif mudah,
keuntungannya juga lumayan, sehingga saya mulai mengembangkannya secara
serius.,” kata Pak Basran, petani jeruk
di desaPendalaman Baru, Kecamatan Barambai, Kabupaten Barito Utara,
Kalimantan Selatan, Indonesia.
Pengembangan Sistem 1,3,9
Walaupun menanam jeruk mudah dilakukan, namun kalau tidak
mengetahui cara yang benar, tidak akan memberikan hasil optimal seperti
diharapkan. Salah satu kiat yang dapat dilakukan petani jeruk adalah dengan
menerapkan sistem 1,3,9. Sistem
1,3,9 adalah suatu rekayasa teknologi dengan cara pengaturan pertumbuhan
ranting yaitu, batang
utama yang dipelihara hanya 1 batang, cabang utama kedua hanya 3 cabang, dan
masing-masing cabang hanya mengembangkan 3 ranting, sehingga menjadi 9 ranting. (Gambar 1).
Sistem 1,3,9 pertama kali dikenalkan dan diajarkan oleh Penyuluh
SPFS – FAO kepada para petani melalui Sekolah
Lapangan. Sekarang,
para petani sudah mulai menerapkan dan meninggalkan sistem lama.
Menurut Syaiful
Asgar, Penyuluh SPFS FAO yang sudah
mengajarkan dan mempraktekkan dikebun sendiri, pengembangan sistem 1,3,9 dalam
penanaman jeruk mempunyai kelebihan antara lain :
1. Produktivitas buah tinggi, karena sinar matahari
masuk kesemua pori-pori dan merangsang fotosintesis, sehingga mempercepat
pembuahan.
2. Ukuran dan kualitas jeruk
lebih seragam,
3. Kulit jeruk tipis dan
buahnya banyak.
4. Tanaman bisa terhindar dari
penyakit Diplodia yang menyebabkan pengeringan dan pelayuan
tanaman, karena terlalu lembab. Hal ini bisa terjadi, karena sinar matahari
bisa menyinari tanaman secara merata. Yang menyebabkan kelembaban dibawah
kanopi menjadi berkurang Dengan demikian tanaman akan berumur lebih panjang.
5. Pemeliharaan relatif lebih
mudah dan murah, karena yang dipelihara hanya 1 batang, 3 cabang dan 9 ranting.
6. Batang lebih kokoh dan
tidak mudah roboh, karena tumbuh secara simetris menyerupai bonsai, sehingga
antara batang, cabang dan ranting saling menopang. Gambar
2menggambarkan
Contoh tanaman jeruk yang tidak kokoh dan sistem 1,3,9 diterapkan untuk
mengatasi masalah ini.
Cara Penanaman
1. Lahan yang akan ditanami bibit jeruk harus
dibersihkan dan diolah lebih dahulu.Penanaman jeruk harus disesuaikan dengan
kondisi lahan. Untuk lahan dengan kemiringan kurang 8% dibuat
teras datar. Kemiringan 10 – 15% dibuat teras gulud. Pada
kemiringan lebih 15% perlu dibuat teras bangku. Untuk menanam jeruk di lahan
pasang surut harus dibuat lebih dahulu Surjan (Gambar
3)
[Baca artikel : Bertanam Jeruk di Lahan Pasang Surut).
2. Buat lubang tanam minimal 4
minggu sebelum bibit ditanam. Pada tanah yang ideal ukuran 60 cm x 60 cm x 60
cm, dengan jarak tanam 5 m x 5m.
3. Buat lubang dengan menggali
dan memisahkan antara lapisan tanah atas (top soil) warna kehitaman dan lapisan
bawah (sub soil).
4. Angin-anginkan galian tanah
sekitar 3 minggu, lalu masukkan tanah lapisan bawah ke dalam lubang setelah
dicampur pupuk kandang 2 kg terlebih dahulu dan Fosfat 1,5 kg. Demikian juga lapisan atasnya, lalu masukkan ke
dalam lubang.
5. Setelah tanah lapisan bawah dan atas
dikembalikan ke dalam lubang, diamkan 1 minggu, lalu bibit ditanamkan.
Memasukkan Bibit ke dalam Lubang :
1. Tanah lapisan atas digali
kembali sedikit lebih besar dari media bibit, baik yang berasal dari polybag maupun
persemaian di tanah. Jika bibit berasal dari persemaian
tanah, bibit bisa langsung dimasukkan ke dalam lubang pertanaman, tetapi
apabila bibit di polybag, robek dulu polibagnya, baru bibit dimasukkan ke dalam
lubang pertanaman.
Bibit disarankan dari hasil
okulasi dengan mata tempel jenis unggul (varietas Siam atau Sungai Madang
merupakan bibit unggul di Barito Kuala) yang berasal dari persemaian di tanah
dengan batang utama bulat (Gambar
4). Kelebihan bibit
dipersemaian tanah dibanding polybag adalah, perkembangan tanaman lebih cepat dan kuat,
karena memiliki media tanam yang luas di banding di polybag.
2. Jika ada akar yang berbelit-belit
atau terlalu panjang, sebaiknya diatur dan dipotong dengan gunting tajam,
sehingga tidak tumpang tindih satu akar dengan lainnya.
3. Bibit diletakkan dalam
lubang dengan posisi tegak lurus. Jika bibit berasal dari okulasi diarahkan ke
Barat, sedangkan tonjolan bibit batang bawah diarahkan ke timur.
4. Tanah galian dimasukkan
kembali untuk menutupi lubang sambil ditekan dengan tangan, lalu disiram agar
tidak ada rongga antara tanah dengan akar tanaman.
5. Bibit ditopang dengan ajir,
sehingga tidak mudah roboh tertiup angin. Mengingat bibit tanaman masih muda, sebaiknya
beri naungan/peneduh.
Pemupukan :
1. Pemupukan adalah usaha penambahan unsur hara
makro dan mikro ke dalam tanah dengan bahan organik maupun an-organik.
Pemupukan sangat penting untuk mengembalikan unsur hara yang telah terproses
oleh tanaman dalam siklus hidup.
2. Pemupukan tanaman jeruk dilakukan saat tanaman
mulai tumbuh aktif (ditandai tumbuh tunas baru) pada awal musim pneghujan atau
akhir kemarau. Jenis dan dosis pemupukan yang direkomendasikan adalah :
|
Umur
Tanaman
(tahun)
|
Dosis
Pemupukan / Hektar / Tahun
|
|||
|
Urea
(kg)
|
SP-36
(kg)
|
KCl
(kg)
|
Kandang
(kg)
|
|
|
Saat
Tanam
1
2
3
4
5
– 12
|
20
80
160
260
400
500
|
20
80
160
260
400
450
|
20
80
160
260
400
450
|
8
8
16
24
32
40
- 90
|
3. Tanaman yang berumur 2,5 – 3 tahun biasanya
mulai berbuah, sehingga selain pemupukan pada awal musim penghujan, juga pada
saat :
a. Menjelang bunga keluar
dengan dosis : Urea 25%, SP-36 = 50% dan KCl 25% dari dosis per tahun
b. Saat penjarangan buah (buah
sebesar kelereng) dengan dosis : Pupuk kandang 50%, Urea 25%, dan KCl 25% dari
dosis per tahun.
c. Setelah buah dipanen
lakukan pemupukan dengan dosis : Pupuk kandang 50%, Urea 25%, dan KCL 25% dari
dosis per tahun.
4. Pemupukan bisa dilakukan
dengan membuat lubang keliling area pemupukan atau membuat 3 – 4 lubang,
benamkan pupuk ke dalam lubang.
Cara pemupukan di atas adalah pemupukan yang
direkomendasikan dan umum dilakukan. Namun demikian, berdasarkan ujicoba dari
inovasi yang dilakukan Penyuluh SPFS FAO oleh Syaiful Asgar, pemupukan juga bisa
dilakukan dengan cara :
1. Agar akar tanaman kuat,
sekaligus mempercepat proses penumbuhan batang, beri pupuk NPK Ponska.
2. Untuk mempercepat
pertumbuhan daun, gunakan pupuk Gardena, atau Sprint.
3. Untuk menghindari hama
tanaman berupa anai-anai, dapat digunakan Furadan 36.Perlu diingat bahwa
penggunaan Furadan 36 hanya diperbolehkan ketika tanaman BELUM
MENGHASILKAN BUAH. Sedangkan untuk menghindari gulma, lakukan penyemprotan 2-3
bulan sekali dengan Roundop atau Tosdon.
Pemangkasan dengan
sistem 1,3,9 :
1. Pemangkasan bertujuan untuk mengatur tinggi
tanaman, memudahkan perawatan, membentuk percabangan (1,3,9) agar tanaman kokoh
dan seimbang, memudahkan sinar matahari masuk ke seluruh permukaan daun,
sehingga pertumbuhan normal, memperbaiki kualitas buah, baik ukuran, warna,
maupun jumlah. Selain itu juga untuk memperbanyak tunas baru yang memunculkan
bunga, buah dan mengurangi kerimbunan pohon untuk mencegah tumbuhnya jamur dan
penyakit.
2. Waktu pemangkasan dilakukan secara berkala saat
tanaman tumbuh sehat untuk pembentukan percabangan pertama, setelah pemupukan,
saat penjarangan buah dan setelah panen.
3. Ketika batang utama tanaman sudah tumbuh sekitar
70 cm (umur 4- 6 bulan), semua cabang yang tumbuh di atasnya harus dipangkas.
4. Setelah tumbuh cabang pada batang utama, pilih
hanya 3 cabang yang akan dikembangkan. Pemilihan cabang dilihat berdasarkan
jarak yang simetris, artinya tidak terlalu berdekatan antara cabang yang satu
dengan lainnya> Cabang lain yang tidak dipelihara agar dipotong.
5. Setelah cabang mencapai ukuran sekitar 25 – 30
cm (satu depa) lakukan pemilihan masing-masing cabang hanya 3 ranting, dan
ranting lainnya di potong. Dengan demikian sudah terbentuk tanaman dengan sistem 1
batang , 3 cabang dan 9 ranting.
6. Mengingat banyaknya manfaat
pemangkasan tersebut, maka para petani diharapkan tidak terlalu sayang
memangkas cabang atau ranting.
Pemanenan :
1. Ketika umur tanaman 2,5 – 3
tahun, tanaman sudah mulai berbuah. Pada buah pertama dan kedua sebaiknya hanya
sekitar 10 – 20 persen yang dipelihara untuk dirasakan buahnya (dicicipi). Sisanya dibuang, karena tanaman masih dalam
proses belajar berbuah.
2. Agar ukuran dan kualitas buah bisa tumbuh
seragam, sebaiknya manfaatkan seoptimal mungkin cahaya sinar matahari untuk
proses fotosintesis tanaman. Caranya, letakkan plastik metalik yang dapat
memantulkan cahaya yang turun ketanah untuk dipantulkan kepada bagian pohon,
sehingga pencahayaan bisa merata mengenai tanaman.
3. Tanda-tanda buah siap dipanen adalah : warna
kulit buah kekuning-kuningan, tekstur buah tidak terlalu keras saat dipegang,
dan bagian bawahnya terasa empuk.
4. Buah muda jangan dipetik,
karena asam rasanya. Terlambat memetik buah juga tidak baik, karena buah
menjadi kering dan kualitasnya menurun.
Perawatan Pasca Panen :
Agar tanaman jeruk bisa berumur panjang, lakukan
perawatan dengan cara memangkas ranting yang sakit (layu), memangkas cabang
yang tumbuhnya tidak dikehendaki dan melentur, memangkas cabang yang tidak
produktif, memangkas tunas-tunas air, memangkas ranting sisa pemanenan buah.
Dampak Penerapan Sistem 1,3,9 Bagi Petani
SPFS
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penanaman
jeruk dengan sistem 1.3,9 lebih menguntungkan (Gambar
5),
karena produktivitas tinggi, ukuran dan kualitas buah jeruk sama (standar) dan
perawatannya lebih mudah dan murah.
Walaupun demikian, untuk
lebih memperkenalkan penanaman jeruk dengan sistem 1,3,9 ini perlu dilakukan
penyuluhan dan sosialisasi kepada petani, sehingga mereka mau dan mampu
menerapkannya.

good'z lucky
BalasHapussemoga berhasil dg segala upaya nya
amin